Antartika: Wilayah Terisolasi yang Diperlombakan oleh Negara-Negara Peneliti Sumber Daya

0
67
Suasana Antartika by Henrique Setim

Antartika, satu-satunya benua di dunia tanpa penduduk asli menetap, menjadi sorotan karena persaingan klaim wilayah dan penelitian yang gencar dilakukan oleh berbagai negara. Terletak di selatan sumbu Bumi, benua ini menghampar dengan luas sekitar 14 juta kilometer persegi, 98% wilayahnya tertutup es tebal bernama Kutub Selatan. Meskipun ukurannya mirip dengan Benua Australia, ketebalan es rata-rata di Antartika mencapai 1.900 meter.

Bukan hanya es, Antartika juga memiliki puncak gunung dan wilayah pesisir tak tertutup es. Dengan ketinggian rata-rata 2.300 meter di atas permukaan laut, benua ini menjadi yang tertinggi di dunia.

Cuaca ekstrem menghasilkan suhu rata-rata tahunan di Kutub Selatan mencapai -60 derajat Celsius pada musim dingin dan -28.2 derajat Celsius saat musim panas. Di Tanjung Adare, wilayah tak tertutup es, Pinguin Adelia, hewan endemik, sering berkumpul.

Sebagai tempat terisolasi dan cuaca tak ramah, Antartika tidak menarik minat kolonisasi selama berabad-abad. Roald Amundsen dari Norwegia menjadi penjelajah pertama yang mencapai Kutub Selatan pada 19 Desember 1911. Meski demikian, negara-negara berlomba-lomba mengklaim wilayah Antartika. Saat ini, tujuh negara—Inggris, Perancis, Norwegia, Australia, Selandia Baru, Cile, dan Argentina—mengklaim kepemilikan wilayah di sana.

Meski klaim-klaim ini tidak diakui oleh Traktat Antartika, negara-negara ini berusaha untuk mengokohkan klaim mereka. Salah satu upaya adalah menerbitkan paspor wilayah yang mereka klaim saat wisatawan mengunjungi Antartika.

Meskipun tujuan Traktat Antartika adalah penelitian dan pelestarian alam, hasrat untuk klaim wilayah tetap kuat. Lebih dari 60 pos penelitian telah didirikan di sana setelah traktat tersebut berlaku, mendukung eksplorasi dan persiapan klaim masa depan.

Penduduk Antartika terbagi menjadi para peneliti di pos-pos penelitian dan wisatawan. Sekitar 4.000 orang mengunjungi Antartika setiap musim panas, dan sekitar 1.000 orang pada musim dingin. Di musim panas, mereka tinggal selama tiga hingga enam bulan.

Baca Juga  Presiden Joko Widodo Ajak ASEAN dan PBB Tingkatkan Kerja Sama demi Kebaikan Dunia

Antartika telah menjadi fokus penelitian ilmiah, khususnya dalam bidang geologi. Banyak negara tertarik menemukan apa yang tersembunyi di bawah es Kutub Selatan. Cadangan minyak bumi di Antartika menambah minat dalam eksplorasi. British Antarctic Survey melaporkan cadangan minyak dan batu bara yang melimpah di sana.

Meskipun tantangan ekstrem, laporan mencatat potensi cadangan minyak 203 miliar barel, dengan sekitar 50 miliar barel berada di Laut Weddell dan Laut Ross yang dikelilingi es tebal dan berdekatan dengan wilayah klaim Australia dan Selandia Baru.

Meskipun ada upaya merevisi larangan pengeboran dan penambangan, Traktat Antartika tetap membatasi eksploitasi sumber daya alam. Namun, beberapa negara di luar tujuh yang awalnya mengklaim wilayah (Inggris, Perancis, Norwegia, Australia, Selandia Baru, Cile, dan Argentina) tertarik.

Negara seperti Iran, Turki, India, dan Pakistan merencanakan pos penelitian atas dasar kerjasama ilmiah. Cina juga berpartisipasi, mengirim kapal besar bernama Snow Dragon pada tahun 2013 untuk ekspedisi ilmiah dan mengeksplorasi potensi sumber daya.

Antartika, yang dulunya dikenal sebagai rumah bagi penguin dan biota laut, kini menjadi pusat perdebatan dalam perlombaan eksploitasi sumber daya alam. Meski tetap menjadi pusat penelitian dan eksplorasi ilmiah, masa depan benua es ini diramaikan oleh ketidakpastian akibat ambisi negara-negara dalam mengklaim wilayah dan potensi sumber daya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here