Wae Rebo: Keindahan Alam dan Budaya yang Mengagumkan di Nusa Tenggara Timur

0
94
Magis Desa Waerebo yang eksotis by Ash Hayes

Wae Rebo, 13 September 2023 – Terletak di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut, desa ini telah dijuluki sebagai negeri di atas awan. Keindahan alam yang menakjubkan dan budayanya yang kaya membuat desa ini menjadi daya tarik tersendiri. Desa yang memukau ini berlokasi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Desa Wae Rebo terdiri dari tujuh rumah utama yang sering disebut “Barun.” Untuk mencapai desa ini, pengunjung harus melalui perjalanan sekitar 7 km melalui Jalan Setapak. Meskipun hanya ada enam keluarga yang tinggal di Barun-barun tersebut, rumah gendang diisi oleh delapan keluarga.

Bangunan utama desa, yang dikenal sebagai “mbaru Niang,” memiliki bentuk kerucut dengan atapnya yang hampir menyentuh tanah. Material untuk bangunan ini berasal dari alam sekitarnya, dan arsitekturnya yang khas telah terjaga sejak zaman dahulu.

Rumah-rumah adat di desa Wae Rebo disusun mengelilingi sebuah batu melingkar yang disebut “compang,” yang merupakan pusat aktivitas dan tempat di mana penduduk mendekatkan diri dengan alam, leluhur, dan Tuhan. Arsitektur di Wae Rebo mencerminkan filosofi kehidupan sosial masyarakat setempat, yang mempercayai bahwa lingkaran adalah simbol keseimbangan. Oleh karena itu, mereka menggunakan pola lingkaran ini dalam hampir semua aspek fisik desa, mulai dari desain kampung hingga rumah-rumah mereka.

Setiap rumah di Wae Rebo memiliki lima tingkat. Tingkat dasar adalah tempat tinggal anggota keluarga dan beraktivitas. Tingkat kedua digunakan untuk menyimpan makanan sehari-hari, sedangkan tingkat ketiga digunakan untuk menyimpan benih. Tingkat keempat berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan jangka panjang, dan tingkat kelima digunakan untuk menyimpan barang-barang yang digunakan dalam upacara adat, yang terbuat dari anyaman bambu.

Baca Juga  10 Destinasi Hangout Terbaik di Jakarta untuk Menghabiskan Waktu Bersama Keluarga

Warga Wae Rebo memenuhi kebutuhan air bersih dengan menggunakan mata air dari pegunungan yang mereka sebut “Sosor.” Sosor dibagi menjadi dua bagian, yaitu Sosor pria dan Sosor wanita.

Selain menawarkan keindahan alam dan bentuk bangunan yang unik, Wae Rebo juga menawarkan pengalaman budaya yang mendalam. Desa ini dihuni oleh 44 kepala keluarga yang utamanya menggantungkan mata pencaharian pada pertanian, termasuk tanaman umbi-umbian, cengkeh, dan kopi. Para wanita di desa ini juga berperan dalam memasak, mengasuh anak, menenun, dan membantu kaum pria di perkebunan.

Wae Rebo adalah contoh nyata bagaimana masyarakat mempertahankan gaya hidup tradisional sesuai dengan budaya dan tradisi yang diwariskan oleh leluhur mereka. Keindahan bentuk bangunan dan kehidupan masyarakat yang masih menjunjung tinggi tradisi telah menarik perhatian wisatawan dan UNESCO. Sebagai hasilnya, pada Agustus 2012, Wae Rebo diakui sebagai warisan budaya dunia, mengalahkan 42 negara lainnya.

Yang lebih unik lagi, penduduk asli Wae Rebo sebenarnya bukan berasal dari sini. Mereka adalah pendatang dari Minangkabau, Sumatera Barat. Seorang pelancong bernama Mpu Maru, bersama keluarganya, berlayar dari Sumatera hingga Labuan Bajo dalam pencarian desa yang dianggap layak untuk dihuni. Setelah perpindahan dari satu desa ke desa lainnya tanpa hasil, empunya mendapat petunjuk dalam mimpi bahwa Wae Rebo adalah tempat yang dia cari.

Desa Wae Rebo memiliki tanah yang subur untuk bercocok tanam, dan populasi yang tidak terlalu padat, menjadikannya tempat yang ideal untuk menetap. Oleh karena itu, empunya dan keluarganya memilih untuk menetap di desa ini.

Wae Rebo bukan hanya tentang pemandangan alam yang menakjubkan, tetapi juga tentang kehidupan sosial dan budaya yang mendalam, yang telah memikat hati para wisatawan dan dunia.

Baca Juga  Gandrung Sewu 2023 'Omprog The Glory of Art': TikTok Challenge dan Pesona Traditional Dance di Pantai Boom Marina Banyuwangi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here