Upacara Adat Rambu Solo’ di Toraja Utara, Sebuah Ritual Pemakaman yang Penuh Makna  

0
82
Makam Suku Toraja by Nicole

Toraja Utara, 19 September 2023 – Di kawasan Toraja Utara, Sulawesi Selatan, terdapat sebuah upacara adat yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Toraja. Upacara tersebut dikenal sebagai Rambu Solo’, juga dikenal sebagai Aluk Rampe Matampu’.

Upacara merupakan ritual pemakaman yang dilangsungkan saat matahari tergelincir ke arah barat, dan jenazah dimakamkan di gua atau rongga di puncak tebing batu. Rambu Solo’ adalah wujud bakti anak keturunan kepada leluhur, sebuah perayaan kesatuan keluarga besar, serta berbagi sumber daya hewan kurban dengan masyarakat sekitar.

Upacara Adat Rambu Solo’ by instagram/visittorajautara

Dalam bahasa Toraja, “Tana” berarti tanah, kawasan, atau tempat tinggal. Masyarakat Toraja juga dikenal dengan sebutan “Toraya,” yang berarti “keturunan Raja,” “Orang-orang hebat,” atau “manusia Mulia.” Toraja Utara, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Tana Toraja pada tanggal 26 November 2008, memiliki ibu kota Rantepao.

Secara geografis, Toraja Utara terletak di wilayah 2°40′ – 3°25′ LS dan 119°30′ – 120°25′ BT, dengan luas mencapai 1.151,47 km² dan berbatasan dengan berbagai kabupaten sekitarnya.

Upacara Rambu Solo’ atau Aluk Rampe Matampu’ adalah rangkaian upacara yang berkaitan dengan kematian dan pemakaman manusia. Upacara ini dilaksanakan setelah lewat tengah hari, menandai kedukaan atas kematian seseorang.

Laki-laki Dalam Upacara Adat Rambu Solo’ by Instagram/visittorajautara

Upacara ini juga melibatkan kurban hewan yang diselenggarakan di sebelah barat tongkonan, rumah adat yang merupakan tempat pusat kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Toraja.

Agama leluhur, dikenal sebagai Aluk Todolo, memainkan peran penting dalam dinamika budaya Suku Toraja. Aluk Todolo mengikat dan menjadi landasan kesatuan masyarakat Toraja. Kemanapun orang Toraja pergi, mereka selalu “kembali” ke kampung halaman dan rumah adat Tongkonan mereka.

Rangkaian upacara pemakaman Rambu Solo’ sangat rumit dan memerlukan biaya yang signifikan. Pihak keluarga harus mengumpulkan dana untuk upacara pemakaman ini, yang besarnya tergantung pada tingkat upacara dan jumlah hewan yang akan dikurbankan.

Baca Juga  Gandrung Sewu 2023 'Omprog The Glory of Art': TikTok Challenge dan Pesona Traditional Dance di Pantai Boom Marina Banyuwangi!
Tengkorak Suku Toraja Jessica Rigollot

Suku Toraja memiliki dua upacara adat utama, yaitu Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’. Rambu Solo’ adalah upacara pemakaman yang menandai kedukaan atas kematian seseorang, sementara Rambu Tuka’ adalah upacara syukuran atas keselamatan dan kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Puncak upacara Rambu Solo’ biasanya berlangsung pada bulan Juli dan Agustus. Ketika waktu, jenis, dan pembagian tugas sudah disepakati, semua keturunan yang merantau akan pulang ke tongkonan untuk ikut serta dalam rangkaian acara ini.

Selama periode persiapan Rambu Solo’, keluarga inti berkumpul untuk menentukan tingkat upacara, jumlah hewan kurban, dan pembagian tugas. Musyawarah ini dilaksanakan di tongkonan tempat jenazah disimpan.

Rambu Solo’ juga merupakan cara bagi anak keturunan untuk memuliakan orang tua. Semakin banyak hewan yang dikurbankan, semakin tinggi derajat jenazah ketika berada di dunia arwah yang diyakini oleh Suku Toraja. Jenazah dianggap “sedang sakit” atau “To Makula'” dan diperlakukan sebagaimana orang yang sedang sakit atau dalam kondisi lemah hingga dilaksanakannya Rambu Solo’.

Dalam kepercayaan Aluk Todolo, semakin tinggi tempat jenazah diletakkan (gua tebing batu), semakin cepat rohnya menuju nirwana atau Puya. Puya adalah tempat peristirahatan para leluhur, di mana roh yang meninggal akan mengalami transformasi menjadi arwah gentayangan, arwah setingkat dewa, atau arwah pelindung, tergantung pada kesempurnaan prosesi Rambu Solo’.

Upacara Rambu Solo’ adalah bukti nyata kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Toraja yang sangat dijunjung tinggi. Ini juga merupakan perayaan kesatuan keluarga besar serta kesempatan bagi anak keturunan untuk tetap memuliakan orang tua mereka.

Sebagai generasi muda, diharapkan dapat menjaga eksistensi budaya dan tradisi ini, serta meneruskan nilai-nilai moral, etika, kebersamaan, dan toleransi dalam keragaman, yang menjadi landasan kuat bagi masyarakat Toraja.

Baca Juga  Panduan Lengkap: Menghasilkan Uang dari Perjalanan Liburan Anda

Dalam mengakhiri upacara pemakaman ini, Suku Toraja menganut prinsip “Meaya,” yaitu memindahkan jenazah dari tongkonan ke Liang (kuburan) yang berupa gua di tebing batu. Semua ritual ini merupakan bagian integral dari budaya Toraja yang kaya dan penuh makna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here