Tradisi Asal Jawa yang Mendunia: Wayang Kulit

0
92
Pementasan wayang by Instagram/ki purbo asmoro

Wayang kulit sebuah seni tradisional yang tumbuh dan berkembang di tanah Indonesia, telah melampaui batas waktu dan geografi, menjelajahi perjalanan panjang dari istana hingga ke seluruh pelosok negeri. Kesenian ini memancarkan warisan budaya yang tak ternilai dan menyuguhkan gambaran mendalam tentang kehidupan spiritual serta nilai-nilai kemanusiaan.

Asal Mula Wayang Kulit

Kisah wayang kulit dimulai dalam lingkungan istana sebelum akhirnya menjadi hiburan rakyat yang menyebar ke berbagai daerah. Kelahiran dan pertumbuhan wayang kulit terutama terjadi di masyarakat Jawa, menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Jawa sendiri.

Lebih dari sekadar hiburan, wayang kulit pada awalnya merupakan alat untuk merefleksi dan mencari kedalaman spiritual yang terhubung dengan para dewa.

Istilah “wayang” sendiri berasal dari kata “ma Hyang,” yang mengarah pada dimensi spiritual yang lebih tinggi. Beberapa sumber juga menghubungkan istilah “wayang” dengan teknik pertunjukan yang menghasilkan bayangan yang terlihat di layar.

Makna dan Simbolisme

Wayang kulit, yang dibuat dari kulit kerbau, dipandang sebagai embrio dari berbagai jenis wayang yang berkembang saat ini. Pertunjukan ini dipentaskan oleh seorang dalang, yang disertai oleh musik gamelan yang dimainkan oleh kelompok nayaga serta nyanyian para pesinden.

Setiap aspek dalam pementasan wayang memiliki makna filosofis mendalam dan simbolisme kuat. Pada setiap karakter memiliki arti mendalam, cerita pewayangan sendiri selalu mengandung pesan moral, cinta, hormat, dan terkadang kritik sosial.

Jejak Sejarah Wayang Kulit

Sejarah wayang kulit mencatatkan jejaknya dalam catatan kuno. Prasasti Kuti yang berasal dari tahun 840 Masehi di Joho, Sidoarjo, Jawa Timur, menyebut istilah “Haringgit” yang merujuk pada dalang atau pertunjukan wayang. Pada masa itu dalang memainkan peran sentral dalam pertunjukan di area lingkungan istana.

Baca Juga  Kopi Terbaik Asal Indonesia

Prasasti Wukajani dari zaman Raja Mataram Dyah Balitung (907 M) juga mengacu pada pertunjukan wayang dengan lakon “Bima Kumara,” yang merupakan salah satu cerita wiracarita Mahabharata.

Relief-relief di candi-candi Jawa Timur abad ke-10, seperti Candi Surawana, Candi Jago, Candi Tigawangi, dan Candi Panataran, juga menyajikan gambaran wayang kulit. Ini menunjukkan penyebaran kesenian ini ke berbagai wilayah.

Pengaruh Islam dan Perubahan

Masa kesultanan Islam membawa perubahan signifikan bagi wayang kulit. Dari eksklusif di lingkungan istana, wayang kulit menjadi milik masyarakat luas, terutama karena pengaruh para pendakwah Islam di Jawa.

Wayang kulit diadaptasi untuk sejalan dengan ajaran Islam dan diperkenalkan kepada masyarakat dengan berbagai modifikasi. Lakon-lakon dari Mahabharata tetap dijalankan, tetapi ditambah dengan unsur-unsur Islam, seperti tokoh panakawan dan penggunaan istilah baru.

Pengaruh Kolonialisasi dan Pelestarian

Pada masa kolonial, penyebaran agama Katolik oleh Sarikat Jesuit juga memanfaatkan wayang kulit sebagai media penyebaran agama.

Meskipun terbuka terhadap pengaruh baru, Daerah Yogyakarta dan Surakarta tetap mempertahankan model pakem dalam pementasan wayang kulit, menjaga bentuk wayang, lakon, tokoh-tokohnya dan peralatan teknis sesuai dengan tradisi Mataram Kuno.

Dengan jejak sejarah yang panjang dan perkembangan yang kaya, wayang kulit bukan hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi juga cerminan mendalam dari kehidupan, kepercayaan, dan perubahan budaya Indonesia. Dari istana hingga masyarakat akar rumput, dari zaman purba hingga modern, wayang kulit terus menjadi bagian tak tergantikan dari jati diri bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here